GAYAM.NGAWIKAB.ID – Para petani ubi Desa Gayam mengeluhkan anjloknya harga ubi jalar hingga Rp 750 per kilogram. Keadaan ini membuat risau para petani ubi karena minimnya harga pasaran. Harga tersebut dirasa tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian bibit, pupuk, dan ongkos tenaga kerja saat penanaman dan panen.

“Panen kali ini rugi mbak. Cuma Rp 750 per kilogram,” tutur Supardi, salah satu petani ubi di Dusun Kepuh, Desa Gayam, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi saat memanen hasil tanamannya. Dalam enam bulan terkahir, harga ubi terus terjun bebas. “Enam bulan lalu harganya mencapai Rp 2.500 per kilogram dan tiga bulan lalu harganya mencapai Rp 1.800 per kilogram,” tutur Supardi.

Supardi menduga, anjloknya harga ubi karena panen hampir bersamaan dengan di daerah lainnya. Supardi mengatakan bahwa dia telah mencabut ubinya dan akan menanam tanaman lain seperti padi. Berbeda dengan Tutik, petani ubi di Dusun Gayam, Desa Gayam Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi. Tutik belum mencabut ubi dan menunggu perkembangan hingga satu dua bulan kedepan.” Mudah-mudahan harga ubi naik ya mbak bulan depan,” tutur Tutik,

Para petani ubi berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Ngawi melalui Dinas Pertanian dapat mencari solusi bersama agar petani tidak dirugikan dengan turunnya harga ubi. Selain itu para petani Desa Gayam juga berharap adanya edukasi untuk meningkatkan kualitas ubi mereka agar berdaya jual tinggi.



Share and Enjoy !

Shares
id_IDIndonesian