GAYAM.NGAWIKAB.ID – Peninggalan-peninggalan manusia pada zaman dahulu menjadi bukti nyata akan adanya peradaban di masa lampau. Dari peninggalan tersebut dapat ditarik berbagai kesimpulan mulai dari tahun adanya peradaban hingga bagaimana kehidupan di masa lampau. Desa Gayam yang terletak di lereng Gunung Lawu memiliki banyak peninggalan sejarah salah satunya adalah ukiran batu yang terletak di Tengklik, Dusun Kepuh, Desa Gayam, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi.

Suyadi (53) selaku Sekretaris Desa Gayam dan Mega (27) selaku Kasi Kesejahteraan melakukan penelusuran sisa peradaban yang berada di Tengklik pada hari Kamis (29/10/2020). Tengklik merupakan tempat pemukiman warga yang hanya terdiri dari dua rumah dan berada di tengah hutan yang dikelilingi dengan pepohonan. Jalan akses menuju Tengklik hanya sebatas pematang sawah. Apabila anda berada di areal tersebut, anda tidak akan menyangka ada dua buah rumah warga disana.

Tengklik dihuni oleh dua orang anak dari Mbah Karso Sentono. Mbah Karso Sentono merupakan orang yang memutuskan untuk bertempat tinggal di Tengklik. Mbah Karso Sentono memiliki anak yang bernama Mbah Kasmini yang saat ini berusia 65 tahun. Mbah Kasmini menceritakan bahwa dulu ibunya memutuskan untuk menetap di Tengklik karena ada beberapa warga yang menempati areal tersebut. Namun seiring berjalnnya waktu, orang-orang tersebut pindah ke tempat lain dan hanya menyisakan rumah dari Mbah Karso Sentono.

Mbah Kasmini bercerita bahwa ketika usianya masih lima tahun, bapaknya yang bernama Mbah Karso Sentono menemukan peninggalan-peninggalan sejarah berupa rantai emas dengan panjang 1 m dan lebar 2 cm, potongan tombak dan keris pada saat mencangkul kebun untuk menanam ketela pohon di belakang rumahnya. Namun Mbah Karso Sentono tidak mengambil peninggalan-peninggalan tersenut dan tetap membiarkan benda-benda tersebut berada ditempatnya. Hingga suatu hari pihak kepolisian mendengar bahwa terdapat peninggalan sejarah di lokasi tersebut. Kemudian pihak kepolisian datang untuk mengambil benda-benda tersebut.

Bukti peninggalan sejarah lainnya adalah sebuah ukiran batu. Mbah Kasmini bercerita bahwa bapaknya menemukan sebuah batu dengan ukiran wayang Kresna dan Baldewa yang sedang naik kereta. Seiring berjalannya waktu, ukiran tersebut mulai pudar karena lumut yang lama kelamaan mengikis batu. Ketika Suyadi dan Mega mendatangi lokasi tersebut, gambar wayang pada batu tidak terlihat sehingga mereka memutuskan untuk menggosok batu tersebut menggunakan sikat cucian. Perlahan gambar tersebut mulai terlihat. Untuk mendapatkan motif gambar yang lebih jelas, mereka menggali areal sekitar batu tersebut setinggi 15 cm. Setelah digali setinggi 15 cm, terdapat ukiran gambar kereta pada batu tersebu. Bapak Suyadi meyakini bahwa keseluruhan batu yang masih terpendam didalam tanah memiliki ukiran-ukiran bersejarah yang penuh akan makna.

Sampai saat ini belum ada tim arkeolog yang meneliti batu tersebut sehingga belum diketahui siapakah yang menggambar wayang dan kapan wayang tersebut digambar. Bapak Suyadi mengatakan adanya kemungkinan bahwa lokasi tersebut merupakan pemukiman dari prajurit karena ditemukan potongan tombak dan keris.

Tokoh adat dan juga suami dari Mbah Kamsini yang bernama Mbah Nurhadi Samingan melarang warga untuk melakukan ritual di areal sekitar batu karena menyimpang dari ajaran agama Islam. Bapak Suyadi berpesan agar batu yang merupakan peninggalan sejarah tersebut dirawat, dijaga dan diestarikan.

Mbah Hadi Samingan dan Bapak Suyadi

Share and Enjoy !

Shares
id_IDIndonesian