PETERNAK LELE ORGANIK DESA GAYAM CIPTAKAN SIMBIOSIS MUTUALISME BERKELANJUTAN

PETERNAK LELE ORGANIK DESA GAYAM CIPTAKAN SIMBIOSIS MUTUALISME BERKELANJUTAN

GAYAM.NGAWIKAB.ID – Mayoritas warga Desa Gayam memiliki usaha dibidang perikanan seperti ikan lele, nila, gabus, tombro, dan koi. Hampir setiap warga memiliki kolam ikan baik kolam ikan alami maupun kolam ikan yang terbuat dari terpal. Bahkan ada banyak warga yang memiliki lebih dari satu kolam. Warga Desa Gayam memanfaatkan lahan kosong untuk dibuat kolam ikan. Kolam-kolam yang dibuat warga adalah kolam alami yang terbuat dari tanah dengan ketinggian rata – rata 75 cm. Selain hemat uang, kolam ikan dari tanah juga dapat menteralkan asam sehingga membuat ikan lebih kebal terhadap penyakit.

Warga lebih suka beternak ikan lele karena dapat hidup dengan kondisi air apapun, baik pada air tergenang maupun minim air. Rata-rata warga mengisi satu kolam ikan dengan ratusan hingga ribuan ekor lele. Jumlah ikan lele yang sangat banyak tersebut membutuhkan banyak modal untuk membeli pakan yang harga per kilogramnya mencapai Rp 10.000. Untuk itu warga mencari akal untuk memberi makan lele dengan biaya yang ringan dengan memanfaatkan limbah kotoran sapi. Dulu kotoran sapi yang biasanya digunakan untuk pupuk kandang sekarang memiliki fungsi ganda yaitu untuk pakan lele organik. Menurut warga kotoran sapi lebih cepat di uraikan dan menghasilkan organisme berupa plankton sebagai pakan utama lele.

Banyak warga yang telah memanfaatkan limbah kotoran sapi sebagai pakan lele seperti Bapak Parni, Sugiyono, Tamin, Sawal, Suyadi, Sujud dan masih banyak lagi. Bapak Suyadi (53) warga RT 07 RW 04 Desa Gayam, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi yang telah memanfaatkan kotoran sapi sebagai pakan lele sejak dua tahun yang lalu. Bapak Suyadi memiliki tujuh kolam ikan lele dari tanah dan satu kolam ikan koi yang terbuat dari terpal. Satu kolam ikan terdapat sekitar 300 ekor ikan lele yang setiap hari diberi makanan kotoran sapi. Saat ini banyak warga yang menjadi peternak lele organik yang memanfaatkan kotoran sapi mereka untuk pakan lele.

Banyak keuntungan yang diperoleh dengan menjadi peternak lele organik. Tidak hanya dari sisi biaya pakan yang murah tapi juga kualitas lele yang dihasilkan menjadi lebih gurih rasanya, dagingnya tidak mudah hancur ketika dimasa dan pertumbuhan lebih cepat. Lele organik juga lebih aman untuk kesehatan karena tidak mengandung zat berbahaya, gizinya lebih tinggi dan rendah kolesterol. Penggunaan limbah kotoran sapi juga tidak membuat air kolam berbau busuk, justru air kolam lele sangat bagus untuk tanaman karena mengandung nitrogen yang berasal dari lumut dan fosfat yang berasal dari kotoran ikan lele. Bapak Suyadi memanfaatkan air kolam lele untuk menyirami tanaman jahe merah miliknya. Dalam waktu enam bulan, tanaman jahe merah tersebut tumbuh dengan subur dan cepat.

Pada hari Kamis (29/10/2020), Bapak Suyadi selaku Sekretaris Desa Gayam dan Mega selaku Kasi Kesejahteraan Desa Gayam melihat secara langsung sebagian kolam lele organik milik warga dan mendengarkan harapan warga Desa Gayam. Dengan adanya potensi peternak ikan lele organik, warga berharap adanya bantuan dari dinas terkait untuk memajukan usaha peternakan lele di Desa Gayam berupa penyuluhan pemanfaatan kotoran sapi dan pemasaran.

Share and Enjoy !

Shares
TIGA POTENSI USAHA TERNAK DUSUN GAYAM

TIGA POTENSI USAHA TERNAK DUSUN GAYAM

GAYAM.NGAWIKAB.ID – Desa Gayam yang terletak di lereng Gunung Lawu memiliki sumber daya alam yang begitu potensial. Suasana alam yang sejuk, tanah yang subur, air yang melimpah, dan beraneka ragam tumbuhan mendukung populasi hewan-hewan ternak untuk terus berkembang biak dengan baik. Kondisi ini membuka peluang usaha yang menjanjikan dibidang peternakan.

Dusun Gayam Desa Gayam Kecamatan Kendal Kabupaten Ngawi memiliki 234 kepala keluarga yang hampir seluruhnya memiliki hewan ternak seperti ayam kampung, sapi dan kambing. Ternak ayam kampung dapat dengan mudah kita jumpai di setiap rumah warga di Dusun Gayam. Hanya sekitar 5% dari warga yang tidak beternak ayam. Untuk beternak ayam, warga memanfaatkan lahan yang ada dengan memberi pembatas yang terbuat dari bambu. Ada juga ayam kampung yang tidak dimasukkan ke kandang dengan kata lain mereka mencari makan dari sisa makanan sang pemilik atau memakan kerikil-kerikil kecil dan rerumputan yang ada disekitarnya.

Posisi ternak terbanyak kedua di Dusun Gayam adalah Sapi. Terdapat 32 kepala keluarga yang memiliki sapi. Adanya berbagai tumbuhan yang dapat tumbuh dengan subur di lahan kosong memberi keuntungan bagi peternak sapi. Mereka mencari rumput dan tumbuhan lainnya untuk kemudian diberikan kepada sapi-sapi mereka. Ada pula yang menggembala sapi di lahan kosong pada sore hari. Warga yang pergi ke sawah untuk memanen padi biasanya pulang dengan membawa jerami padi untuk diberikan kepada sapi-sapi mereka.

Posisi ternak terbanyak ketiga adalah kambing. Terdapat 18 kepala keluarga yang beternak kambing. Satu kepala keluarga biasanya memiliki lebih dari satu kambing. Sama seperti sapi, warga Dusun Gayam baisanya menggembala kambing pada sore hari. Dusun Gayam sendiri memiliki 2 orang blantik yang terkenal yaitu Mbah Yadi dengan spesialis Kambing Jawa dan Mbah Sukar dengan spesialis Kambing Gibas.

Share and Enjoy !

Shares
id_IDIndonesian