NGURI-NGURI PUSAKA TANAH JAWA

NGURI-NGURI PUSAKA TANAH JAWA

GAYAM.NGAWIKAB.ID – Di zaman milenial sekarang ini, masyarakat Jawa masih melestarikan adat dan tradisi budaya Jawa yaitu nguri-nguri pusaka. Pusaka adalah hasil sebuah karya besar para empu dari zaman kerajaan yang mempunyai kekuatan supranatural, yang konon katanya bisa memberi kekuatan, kejayaan,dan kebesaran kepada pemiliknya.

Di Desa Gayam ada tokoh masyarakat yang masih nguri-nguri budaya Jawa terutama dalam hal melestarikan dan merawat pusaka Jawa yaitu Bapak Fachrudin (Rudi) warga RT 03 RW 02 Dusun Munggur Desa Gayam Kecamatan Kendal Kabupaten Ngawi. Pak Rudi memiliki hobby mengoleksi benda pusaka sejak tahun 2018. Pak Rudi menyukai pusaka karena bentuknya yang unik dan saat ini pusaka merupakan barang langka dan antik. Selain itu ada daya tarik yang luar biasa ketika memegang benda-benda tersebut .

Benda-benda tersebut didapatkan dari peninggalan orang tua, pemberian sanak saudara, dan pemberian tokoh masyarakat. Saat ini Pak Rudi mengoleksi keris, pring tethuk, tombak, fosil kerang atau kol buntet, buluh perindu, pedang dan wesi kuning. Jumlah keris dan pedang koleksi milik Pak Rudi sebanyak 76 buah sedangkan jumlah batu bertuah sebanyak 12 buah.

Pusaka -pusaka tersebut dimandikan setiap bulan asyuro agar pamor dan slorok yang terdapat pada bilah pusaka muncul kontras dengan warna bilahnya dan supaya tidak karatan. Pusaka – pusaka biasanya dimandikan pada bulan asyuro karena bulan tersebut diyakini sebagai bulan suci dan merupakan awal tahun hijriah. Sebelum memandikan, sebaiknya menyiapkan segala ubo rampe seperti

  1. Menyiapkan kotakan dari kayu
  2. Menyiapkan air kelapa, nanas, bentis, jeruk nipis, kayu cendana, warangan, dan tisu
  3. Menyiapkan minyak kasturi misik
  4. Sesepuh yang membersihkan keris

Berbagai hal ganjil terjadi seperti hilangnya satu pusaka yaitu semar mesem secara misterius. Pak Rudi memprediksi bahwa benda tersebut kembali ke alam dan pada saatnya akan kembali lagi. Selain itu, menurut apabila Pak Rudi pergi ke luar kota maka benda pusaka tersebut akan menimbulkan suara-suara aneh. Tapi ketika diberitahu bahwa Pak Rudi sedang berpergian, suara tersebut hilang. Kedepan Pak Rudi berencana untuk membuka museum benda pusaka untuk pembelajaran sejarah bagi generasi muda.

Share and Enjoy !

Shares
MENGGALI SISA PERADABAN DI BUMI TENGKLIK

MENGGALI SISA PERADABAN DI BUMI TENGKLIK

GAYAM.NGAWIKAB.ID – Peninggalan-peninggalan manusia pada zaman dahulu menjadi bukti nyata akan adanya peradaban di masa lampau. Dari peninggalan tersebut dapat ditarik berbagai kesimpulan mulai dari tahun adanya peradaban hingga bagaimana kehidupan di masa lampau. Desa Gayam yang terletak di lereng Gunung Lawu memiliki banyak peninggalan sejarah salah satunya adalah ukiran batu yang terletak di Tengklik, Dusun Kepuh, Desa Gayam, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi.

Suyadi (53) selaku Sekretaris Desa Gayam dan Mega (27) selaku Kasi Kesejahteraan melakukan penelusuran sisa peradaban yang berada di Tengklik pada hari Kamis (29/10/2020). Tengklik merupakan tempat pemukiman warga yang hanya terdiri dari dua rumah dan berada di tengah hutan yang dikelilingi dengan pepohonan. Jalan akses menuju Tengklik hanya sebatas pematang sawah. Apabila anda berada di areal tersebut, anda tidak akan menyangka ada dua buah rumah warga disana.

Tengklik dihuni oleh dua orang anak dari Mbah Karso Sentono. Mbah Karso Sentono merupakan orang yang memutuskan untuk bertempat tinggal di Tengklik. Mbah Karso Sentono memiliki anak yang bernama Mbah Kasmini yang saat ini berusia 65 tahun. Mbah Kasmini menceritakan bahwa dulu ibunya memutuskan untuk menetap di Tengklik karena ada beberapa warga yang menempati areal tersebut. Namun seiring berjalnnya waktu, orang-orang tersebut pindah ke tempat lain dan hanya menyisakan rumah dari Mbah Karso Sentono.

Mbah Kasmini bercerita bahwa ketika usianya masih lima tahun, bapaknya yang bernama Mbah Karso Sentono menemukan peninggalan-peninggalan sejarah berupa rantai emas dengan panjang 1 m dan lebar 2 cm, potongan tombak dan keris pada saat mencangkul kebun untuk menanam ketela pohon di belakang rumahnya. Namun Mbah Karso Sentono tidak mengambil peninggalan-peninggalan tersenut dan tetap membiarkan benda-benda tersebut berada ditempatnya. Hingga suatu hari pihak kepolisian mendengar bahwa terdapat peninggalan sejarah di lokasi tersebut. Kemudian pihak kepolisian datang untuk mengambil benda-benda tersebut.

Bukti peninggalan sejarah lainnya adalah sebuah ukiran batu. Mbah Kasmini bercerita bahwa bapaknya menemukan sebuah batu dengan ukiran wayang Kresna dan Baldewa yang sedang naik kereta. Seiring berjalannya waktu, ukiran tersebut mulai pudar karena lumut yang lama kelamaan mengikis batu. Ketika Suyadi dan Mega mendatangi lokasi tersebut, gambar wayang pada batu tidak terlihat sehingga mereka memutuskan untuk menggosok batu tersebut menggunakan sikat cucian. Perlahan gambar tersebut mulai terlihat. Untuk mendapatkan motif gambar yang lebih jelas, mereka menggali areal sekitar batu tersebut setinggi 15 cm. Setelah digali setinggi 15 cm, terdapat ukiran gambar kereta pada batu tersebu. Bapak Suyadi meyakini bahwa keseluruhan batu yang masih terpendam didalam tanah memiliki ukiran-ukiran bersejarah yang penuh akan makna.

Sampai saat ini belum ada tim arkeolog yang meneliti batu tersebut sehingga belum diketahui siapakah yang menggambar wayang dan kapan wayang tersebut digambar. Bapak Suyadi mengatakan adanya kemungkinan bahwa lokasi tersebut merupakan pemukiman dari prajurit karena ditemukan potongan tombak dan keris.

Tokoh adat dan juga suami dari Mbah Kamsini yang bernama Mbah Nurhadi Samingan melarang warga untuk melakukan ritual di areal sekitar batu karena menyimpang dari ajaran agama Islam. Bapak Suyadi berpesan agar batu yang merupakan peninggalan sejarah tersebut dirawat, dijaga dan diestarikan.

Mbah Hadi Samingan dan Bapak Suyadi

Share and Enjoy !

Shares
MENILIK SISA BANJIR BANDANG TAHUN 2002

MENILIK SISA BANJIR BANDANG TAHUN 2002

GAYAM.NGAWIKAB.ID – Pada tahun 2000 bulan November telah terjadi banjir bandang akibat kebakaran hutan Lawu yang meluas akibat kemarau panjang selama sembilan bulan. Sehingga pada musim penghujan tiba terjadi erosi karena tanah gundul yang menyebabkan banjir yang disertai dengan lumpur. Arus air banjir yang begitu besar menyebabkan tanaman dan tumbuhan di sekitar sungai rusak dan ada tiga jembatan yang terputus yaitu Kretek Kapal, Winong dan Proliman Gayam dan mengakibatkan satu rumah hanyut terbawa banjir milik Alm. Sukar yang berada 50 meter dari sungai.

Selain itu banjir membawa material berupa batu besar dan pasir. Akibat dari banjir tersebut bisa menjadi mata pencahariaan warga yang ada di tepi sungai yaitu mencari pasir dan batu untuk membangun rumah. Untuk material batu ukuran 2 x 3 digunakan untuk pembangunan jalan aspal dari pintu masuk Desa Gayam hingga perlimaan Dusun Gayam sepanjang 2,5 km.

Renovasi rumah warga yang terdampak banjir

Akibat banjir banyak tanah persawahan yang rusak. Warga melakukan gugur gunung, membantu warga yang terdampak bajir. Untuk mengatasi banjir susulan, Kepala Desa Gayam waktu itu memiliki inisiatif membuat sudetan sungai yang jauh dari pemikiman penduduk dengan mendatangkan alat-alat berat. Dampak positif dari banjir bandang tersebut adalah menciptakan lapangan kerja baru yaitu masyarakat mencari batu hingga lima tahun dan tanah irigasi menjadi subur karena banjir membawa tanah humus.

Share and Enjoy !

Shares
BELIK YANG TAK LEKANG OLEH WAKTU

BELIK YANG TAK LEKANG OLEH WAKTU

GAYAM.NGAWIKAB.ID – Belik merupakan tempat keluarnya mata air yang digunakan untuk mandi pada zaman dahulu. Di Desa Gayam tepatnya di Dusun Bulak masih terdapat banyak belik seperti Belik Blumbang, Legi, Mbah Suro, Mbah So dan Cilik. Pemberin nama Belik biasanya berdasarkan nama dari pemilik belik tersebut.

Pada zaman dahulu warga membedakan belik tempat untuk mandi dan belik untuk air minum. Pada musim kemarau, warga berlomba untuk mendapatkan air. Mereka pergi ke belik dengan membawa jun dan mengambil air menggunakan tempurung kelapa. Apabila sudah melewati pukul 03.00 WIB biasanya warga sudah kehabisan air dan harus menunggu untuk beberapa jam.

Saat ini air pada belik-belik tersebut masih mengalir dan kondisi belik tidak berubah. Namun warga sekita lebih memilih air PDAM dari pada belik karena dirasa lebih mudah. Selain itu belik di Dusun Bulak terkenal angker sehingga sedikit warga yang berani pergi ke belik.

Gambar dibawah ini adalah Belik Cilik yang terletak disebelah utara watu bengkah. Watu bengkah pada zaman dahulu merupakan sumber mata air. Diatas belik tersebut terdapat berbagai tanaman dahulunya. Namun saat ini diatas belik tersebut terdapat pohon bambu dan ketela. Belik Cilik memiliki 3 belik kecil yang berjajar. Kondisi belik masih seperti dahulu namun belik tersebut sudah tidak lagi digunakan oleh warga sekitar.

Share and Enjoy !

Shares
PERINGATAN MAULID NABI DI MASJID NURUL HUDA DUSUN MUNGGUR

PERINGATAN MAULID NABI DI MASJID NURUL HUDA DUSUN MUNGGUR

GAYAM.NGAWIKAB.ID – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 27 Oktober di Masjid Nurul Huda yang terletak di RT.03 RW.02 Dusun Munggur Desa Gayam Kecamatan Kendal Kabupaten Ngawi. Acara tersebut dihadiri oleh seluruh masyarakat Dusun Munggur yang diketuai oleh Bapak Muhdi dan penceramah Bapak Suparno.

Acara tersebut dimulai dari sholat isya berjamaah. Tema pada Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini adalah memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Acara tersebut dimeriahkan oleh kesenian hadrah yang melantukan lagu-lagu islami yang dipimpin oleh Bapak Mutholibin.

Peringatan maulid nabi merupakan budaya yang selalu dilakukan oleh masyarakat Desa Gayam untuk mengenang makna kelahiran Nabi Muhammad SAW sehingga bisa memberikan pedoman dan teladan bagi semua jemaah. Bapak Muhdi mengatakan bahwa dengan adanya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW diharapkaan dapat mempertebal iman, ihsan dan islam.

Share and Enjoy !

Shares
JEJAK SEJARAH PETILASAN SELUMPANG

JEJAK SEJARAH PETILASAN SELUMPANG

GAYAM.NGAWIKAB.ID – Pada zaman dahulu Selumpang merupakan nama areal persawahan yang terletak di RT 03 RW 02 Dusun Munggur, Desa Gayam, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi. Konon katanya Selumpang pernah dijadikan pemukiman oleh orang – orang pada zaman dahulu. Namun pemukiman tersebut kini sudah tidak ada karena adanya pageblug berupa letusan Gunung Lawu dan bencana alam lainnya yang menyebabkan orang-orang tersebut berpindah ke lokasi yang lebih aman dan meninggalkan barang-barang mereka di area tersebut.

Banyak bukti-bukti sejarah yang telah ditemukan di area tersebut. Konon katanya seorang petani yang sedang mencangkul di area tersebut mendapati cangkulnya membentur benda keras. Setelah digali lebih dalam ternyata ditemukan dua buah lumpang yang terbuat dari batu. Petani tersebut kemudian mengambil kedua lumpang tersebut dan meletakkannya ke areal persawahan yang lebih atas. Keesokan harinya kedua lumpang tersebut kembali ketempat asalnya. Konon katanya, lumpang tersebut kembali dengan sendirinya. Warga sekitar mengatakan bahwa posisi kedua lumpang selalu bergeser tanpa diketahui penyebabnya.

Oleh sebab itu, warga sekitar membiarkan lumpang tersebut berada disana. Sampai saat ini lumpang tersebut masih ada dan terkubur didalam tanah. Area dengan luas sekitar 300 meter2 tersebut diyakini oleh masyarakat sekitar membawa berkah dari alam karena ada aura positif. Saat ini tanah Selumpang telah menjadi area pemukiman warga, kolam renang Gayam Park, dan usaha ternak ayam potong.

Share and Enjoy !

Shares
id_IDIndonesian