SUKA DUKA PENGUSAHA KERUPUK BAWANG

SUKA DUKA PENGUSAHA KERUPUK BAWANG

JADILAH WANITA YANG KREATIF DAN BERKREASI. TUNJUKKAN BAKATMU UNTUK MENGAMBANGKAN POTENSI USAHA PERDAGANGAN DI DESA GAYAM.

Marsiti

GAYAM.NGAWIKAB.ID – Kerupuk bawang merupakan kerupuk dengan bahan dasar tepung tapioka. Kerupuk dengan harga bersahabat ini sangat mudah didapat karena rasanya yang sangat disukai masyarakat. Marsiti (35) warga RT 01 RW 03 Desa Gayam, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi menjadi pengusaha kerupuk bawang sejak 1,5 tahun yang lalu.

Baca Juga: COVID-19 MEMBAWA BERKAH BAGI PENGUSAHA TEMPE ASAL DESA GAYAM

Awalnya Marsiti belajar dari pamannya yang juga pengusaha kerupuk bawang. Tidak hanya kerupuk bawang, Marsiti mengembangkan usahanya dengan membuat pangsit, makaroni dan peyek dengan beraneka ragam rasa. Pembeli dapat memilih varian rasa untuk makaroni seperti asin, ayam bawang, balado, barbaque, jagung bakar, jagung manis, keju dan pedas asin. Berbagai varian peyek yang dapat disesuaikan dengan selera pembeli seperti peyek kacang, peyek teri, peyek udang, peyek teri kavang dan masih banyak lagi.

Diantara kerupuk bawang, pangsit, makaroni dan peyek, krupuk bawang memiliki jumlah peminat paling banyak. Pembuatan krupuk bawang oleh Marsiti dilakukan secara manual dengan mengandalkan tenaga. Hal ini menjadi kendala ketika pesanan kerupuk bawang membeludak.

Cara pembuatan kerupuk bawang adalah

  • Bawang, ketumbar, micin dan pengembang kerupuk ditumbuk menjadi satu
  • Tambahkan tepung kanji, tepung tapioka dan air secukupnya hingga menjadi adonan
  • Masukkan ke dalam plastik atau daun pisang dan kukus selama satu jam
  • Diinginkan dan setelah dingin dapat diiris tipis-tipis
  • Kemudian tata di tampah dan jemur hingga kering

Keuntungan dari penjualan krupuk sebelum pandemi COVID-19 hampir 100%. Marsiti dibantu dengan empat karyawan membuat dan mengantarkan dagangannya ke beberapa daerah. Di tiga bulan awal pandemi COVID-19, pendapatan Marsiti turun drastis. Saat ini pendapatan hasil penjualan kerupuk bawang sudah ada kenaikan namun tidak seperti sebelum COVID-19. Selain diloper, Marsiti juga melayani pemesanan kerupuk dengan jumlah banyak. Pada acara hajatan, Marsiti sering memperoleh pesanan mulai dari 200 bungkus hingga 1000 bungkus kerupuk bawang mentah. Biasanya Marsiti menjual kerupuk bawang mentah seberat 0,5 kg seharga Rp 10.000, pangsit matang per satu kilonya seharga Rp 45.000 dan makaroni dijual kemasan seharga Rp 3000.

Marsiti mengungkapkan bahwa keuntungan yang diperoleh dalam pembuatan kerupuk bawang sangat luar biasa. Namun saat ini dia terkendala dalam pemasaran dan pembuatan. Pasalnya Marsiti belum menggunakan mesin dalam pembuatan kerupuk bawang dan hanya mengandalkan tenaga.

Pesan Sekarang

Share and Enjoy !

Shares
COVID-19 MEMBAWA BERKAH BAGI PENGUSAHA TEMPE ASAL DESA GAYAM

COVID-19 MEMBAWA BERKAH BAGI PENGUSAHA TEMPE ASAL DESA GAYAM

GAYAM.NGAWIKAB.ID – Tempe merupakan salah satu makanan tradisional Indonesia yang sudah mendunia. Tempe kaya akan protein dan merupakan sumber vitamin B12. Di Desa Gayam terdapat pengusaha tempe yang bernama Chairul Rosidin (33) warga RT 07 RW 04 Desa Gayam, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi. Usaha tempe yang ditekuninya merupakan usaha warisan yang turun temurun dari neneknya.

Untuk menghasilkan tempe dengan kualitas yang baik caranya

  • Lakukan penyortiran kedelai dengan cara ditempatkan pada tampah, kemudian ditampi
  • Kedelai dicuci menggunakan air mengalir
  • Kedelai direbus selama 30 menit atau sampai mendekati setengah matang
  • Kedelai yang sudah direbus direndam selama semalam
  • Kulit arinya dikupas menggunakan mesin giling hingga akhirnya didapatkan keping-keping kedelai
  • Keping kedelai dicuci dan dimasukkan ke dalam dandang lalu ditanak
  • Setelah matang,hamparkan tipis-tipis di atas tampah dan tunggu sampai keping kedelai mengering
  • Tambahkan ragi tempe
  • Bungkus kedelai menggunakan daun pisang atau plastik
  • Tunggu hingga keesokan harinya tempe yang dibuat telah jadi dan siap untuk dikonsumsi.

Pada awalnya Chairul Rosidin memproduksi tempe yang dibungkus dengan daun jati atau pisang. Seiring berjalannya waktu, dia memproduski tempe yang dibungkus dengan plastik. “Tempe daun lebih ada aroma daunnya sedangkan tempe plastik rasanya lebih gurih”, ungkap Chairul Rosidin saat diwawancarai oleh Operator Web Desa Gayam. Saat ini banyak orang yang lebih menyukai tempe daun daripada tempe plastik. Keuntungan yang diperolehpun lebih besar menggunakan daun daripada plastik. Keuntungan menggunakan daun sekitar 90% sedangkan menggunakan plastik sekitar 70%.

Sebelum adanya pandemi COVID-19, Chairul Rosidin memproduksi tempe dengan kedelai rata-rata 40 kg per hari. Pada awal pandemi COVID-19, hasil penjualan tempenya menurun drastis karena banyak tukang sayur dari luar Ngawi yang tidak diperbolehkan memasuki wilayah Ngawi. Tidak berselang lama, usaha tempenya berkembang pesat. Orang-orang yang dulunya belanja ke pasar saat ini mulai beralih ke tukang sayur sehingga permintaan tempe meningkat. Dalam satu hari, Chairul Rosidin dapat memproduksi 60 hingga 65 kg tempe dengan harga kedelai per kilonya bervariasi mulai Rp 7.900 sampai Rp 8.100.

Selain dijual ke tukang sayur, tempe Chairul Rosidin juga sering dibawa ke Jakarta untuk oleh-oleh karena di Jakarta jarang ada tempe daun. Syaratnya tempe yang dibawa baru saja dibungkus, sehingga setibanya di Jakarta tempe tersebut siap untuk dimasak. Selain untuk oleh-oleh, banyak orang yang memiliki hajat membeli tempe dalam jumlah besar untuk dimasak pada acara hajatan.

Pesan tempe, klik disini.

Share and Enjoy !

Shares
MENGINTIP PROSES PEMBUATAN TAHU LEGEND DESA GAYAM

MENGINTIP PROSES PEMBUATAN TAHU LEGEND DESA GAYAM

GAYAM.NGAWIKAB.ID – Siapa yang tak kenal tahu dan tempe. Makanan berprotein tinggi ini menjadi menu pilihan bagi mayoritas masyarakat di Indonesia karena memiliki nilai ekonomis yang terjangkau. Pasangan suami istri bernama Bapak Sutrisno (57) dan Ibu Komsatun (52) telah menggeluti usaha dibidang pembuatan tahu sejak tahun 1995. Usaha tersebut merupakan warisan dari orang tua Ibu Komsatun yang ada sejak tahun 1955. Sebagai pengusaha tahu pertama di Desa Gayam, Komsatun mengatakan bahwa harga kedelai pada tahun 1995 dibawah Rp 1.000 dan saat ini harga kedelai mencapai Rp 8.000 per kilonya bahkan terkadang jumlah produksi kedelai dari petani dalam negeri tidak mencukupi permintaan sehingga harga di pasaran melambung tinggi.

Usaha produksi tahu di Indonesia masih banyak yang menggunakan alat-alat konvensional seperti pembuatan tahu legend milik Ibu Komsatun. Cara pembuatan tahu adalah sebagai berikut

  • Kedelai direndam dalam air bersih selama 4 – 10 agar kedelai mengembang dan ‚Äčlebih mudah untuk digiling.
  • Kedelai digiling dan tambahkan sedikit air untuk memperoleh tekstur yang halus.
  • Kedelai direbus dan ditambahkan air sambil diaduk agar tidak menjadi buih.
  • Kedelai kemudian disaring dengan kain saring tahu dan diperas. Ampas dari kedelai dapat dimanfaatkan untuk membuat tempe dengan cara dikukus kemudian diberi ragi tempe. Selanjutnya ampas tersebut dibungkus dan tunggu sampai dua hari hingga ampas menjadi tempe.
  • Kedelai yang sudah disaring berbentuk seperti sari kedelai dan ditambahkan larutan pengendap sedikit demi sedikit sambil diaduk perlahan.
  • Tunggu sampai sari kedelai mengendap. Selanjutnya sari kedelai dapat dicetak dan siap untuk dimasak.
  • Apabila ingin membuat tahu gembus, maka tahu digoreng lebih lama dengan minyak yang banyak.

Tahu produksi Ibu Komsatun dijual di Ngrayudan dan Jogorogo dengan harga bervariasi mulai dari Rp 200 hingga 400 per bijinya. Menggeluti usaha pembuatan tahu memberikan untung yang tidak besar namun usaha tahu di Indonesia tak akan pernah mati karena banyak diminati masyarakat. Namun seiring adanya wabah COVID-19, pendapatan dari penjualan tahu milik Ibu Komsatun turun hingga 40%. Demikian sekilas tentang UKM pembuatan tahu legend dari Desa Gayam.

Baca: IDE KREATIF PEMANFAATN LIMBAH TALI STRAPPING

Share and Enjoy !

Shares
IDE KREATIF PEMANFAATAN LIMBAH TALI STRAPPING

IDE KREATIF PEMANFAATAN LIMBAH TALI STRAPPING

GAYAM.NGAWIKAB.ID – Ide kreatif pemanfaatan tali strapping oleh Ibu Saitun kini menjadi ladang bisnis yang menjajikan. Ide tersebut muncul pada awal tahun 2017. Berawal dari suaminya yang bekerja di toko material dan pulang membawa limbah tali strapping bekas hebel, peti dan keramik. Ibu Saitun memanfaatkan limbah tali strapping tersebut menjadi anyaman dengan daya jual tinggi seperti tas belanja, pot bunga, rak sepatu, tempat cucian kotor, tutup makanan, tempat sendok, hingga tempat sampah.

Anyaman pot yang terbuat dari tali strapping

Ibu Saitun membutuhkan waktu 1,5 – 2 jam untuk membuat sebuah anyaman tergantung dari tingkat kerumitan dari anyaman yang akan dibuat. Dalam satu bulan Ibu Saitun dapat memproduksi 50 tas belanja, 5 – 10 pot bunga dan puluhan anyaman lainnya yang dipesan sesuai dengan keinginan pembeli. Biasanya setelah Ibu Saitun menyelesaikan 5 – 10 anyaman, pembeli akan datang untuk mengambil anyaman tersebut dan kemudian di jual lagi.

Anayaman-anyaman karya Ibu Saitun mempunyai harga yang bervariasi. Anyaman pot tanaman dijual dengan harga mulai dari Rp 5000 hingga Rp 20.000. Anyaman tas belanja di bandrol dengan harga Rp 13.000. Selain itu terdapat juga tutup makanan dan tempat sampah yang dijual mulai dari Rp 20.000 hingga Rp 40.000. Dalam satu bulan Ibu Saitun mendapatkan untung bersih sekitar Rp 2.000.000.

Kelebihan dari produk anyaman Ibu Saitun adalah kualitasnya yang bagus dengan harga yang bersahabat. Selain itu, anda juga dapat melakukan pemesanan sesuai dengan keinginan anda melalui WA 0857 5556 5642 atau datang langsung ke rumah Ibu Saitun yang beralamat di RT 06 RW 01 Dusun Gayam Kecamatan Kendal Kabupaten Ngawi.

Beraneka macam produk anyaman Ibu Saitun

Share and Enjoy !

Shares
id_IDIndonesian