COVID-19 MEMBAWA BERKAH BAGI PENGUSAHA TEMPE ASAL DESA GAYAM

COVID-19 MEMBAWA BERKAH BAGI PENGUSAHA TEMPE ASAL DESA GAYAM

GAYAM.NGAWIKAB.ID – Tempe merupakan salah satu makanan tradisional Indonesia yang sudah mendunia. Tempe kaya akan protein dan merupakan sumber vitamin B12. Di Desa Gayam terdapat pengusaha tempe yang bernama Chairul Rosidin (33) warga RT 07 RW 04 Desa Gayam, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi. Usaha tempe yang ditekuninya merupakan usaha warisan yang turun temurun dari neneknya.

Untuk menghasilkan tempe dengan kualitas yang baik caranya

  • Lakukan penyortiran kedelai dengan cara ditempatkan pada tampah, kemudian ditampi
  • Kedelai dicuci menggunakan air mengalir
  • Kedelai direbus selama 30 menit atau sampai mendekati setengah matang
  • Kedelai yang sudah direbus direndam selama semalam
  • Kulit arinya dikupas menggunakan mesin giling hingga akhirnya didapatkan keping-keping kedelai
  • Keping kedelai dicuci dan dimasukkan ke dalam dandang lalu ditanak
  • Setelah matang,hamparkan tipis-tipis di atas tampah dan tunggu sampai keping kedelai mengering
  • Tambahkan ragi tempe
  • Bungkus kedelai menggunakan daun pisang atau plastik
  • Tunggu hingga keesokan harinya tempe yang dibuat telah jadi dan siap untuk dikonsumsi.

Pada awalnya Chairul Rosidin memproduksi tempe yang dibungkus dengan daun jati atau pisang. Seiring berjalannya waktu, dia memproduski tempe yang dibungkus dengan plastik. “Tempe daun lebih ada aroma daunnya sedangkan tempe plastik rasanya lebih gurih”, ungkap Chairul Rosidin saat diwawancarai oleh Operator Web Desa Gayam. Saat ini banyak orang yang lebih menyukai tempe daun daripada tempe plastik. Keuntungan yang diperolehpun lebih besar menggunakan daun daripada plastik. Keuntungan menggunakan daun sekitar 90% sedangkan menggunakan plastik sekitar 70%.

Sebelum adanya pandemi COVID-19, Chairul Rosidin memproduksi tempe dengan kedelai rata-rata 40 kg per hari. Pada awal pandemi COVID-19, hasil penjualan tempenya menurun drastis karena banyak tukang sayur dari luar Ngawi yang tidak diperbolehkan memasuki wilayah Ngawi. Tidak berselang lama, usaha tempenya berkembang pesat. Orang-orang yang dulunya belanja ke pasar saat ini mulai beralih ke tukang sayur sehingga permintaan tempe meningkat. Dalam satu hari, Chairul Rosidin dapat memproduksi 60 hingga 65 kg tempe dengan harga kedelai per kilonya bervariasi mulai Rp 7.900 sampai Rp 8.100.

Selain dijual ke tukang sayur, tempe Chairul Rosidin juga sering dibawa ke Jakarta untuk oleh-oleh karena di Jakarta jarang ada tempe daun. Syaratnya tempe yang dibawa baru saja dibungkus, sehingga setibanya di Jakarta tempe tersebut siap untuk dimasak. Selain untuk oleh-oleh, banyak orang yang memiliki hajat membeli tempe dalam jumlah besar untuk dimasak pada acara hajatan.

Pesan tempe, klik disini.

Share and Enjoy !

Shares
id_IDIndonesian