TUMPANG SARI MENJADI ALTERNATIF DISAAT HARGA UBI MENURUN

TUMPANG SARI MENJADI ALTERNATIF DISAAT HARGA UBI MENURUN

GAYAM.NGAWIKAB.ID – Tumpang sari merupakan suatu sistem penanaman dua tanaman atau lebih dalam satu lahan pada waktu bersamaan. Penanaman menggunakan sistem tumpang sari sudah ada sejak zaman dahulu. Namun saat ini hanya sedikit petani yang menerapkan sistem tumpang sari karena minimnya pengetahuan. Hanya sebagian kecil petani di Desa Gayam telah menerapkan sistem tumpang sari kena sebagian besar petani belum tahu tentang manfaat tumpang sari.

Tumpang sari dinilai lebih efisien karena dapat menambah hasil panen yang lebih banyak dan bisa menopang kegagalan panen tanaman lainnya. Pola tanam tumpang sari dapat diterapkan kapan saja. Namun dalam menentukan jenis tanaman yang akan ditumpangsarikan sebaiknya disesuaikan dengan ketersediaan air yang ada selama pertumbuhan untuk menghindari persaingan penyerapan hara dan air antar tanaman.

Letak geografis Desa Gayam sangat mendukung keberhasilan pola tanam tumpang sari seperti ketersediaan air, kesuburan tanah, dan sinar matahari. Desa Gayam memiliki tanah bertekstur padat sehingga tidak cocok untuk tanaman kentang dan kedelai yang membutuhkan tekstur tanah gembur. Selain itu tanaman wortel juga tidak cocok ditanam karena tekstur tanah yang padat dan suhu yang kurang stabil. Tanaman yang cocok ditanam di Desa Gayam adalah jagung, ubi rambat, dan sayur-sayuran. Tanaman yang dapat ditumpangsarikan di Desa Gayam contohnya jagung dengan sawi, kacang tanah dengan daun bawang, dan padi dan ubi jalar.

Dampak menurunya harga ubi membuat petani ubi di desa gayam beralih ke pola tanam tumpang sari. Seperti yang dilakukan oleh Bapak Suwandi warga RT 01 RW 02 Dusun Munggur dan Bapak Supardi warga RT 04 RW 01 Dusun Gayam. Bapak Suwandi memanfaatkan lahannya untuk ditanami padi dan ubi jalar. Sedangkan Bapak Supardi menanam padi dan daun bawang (loncang) di lahannya.

Baca Juga: Harga Turun, Petani Ubi Desa Gayam Merugi

Share and Enjoy !

Shares
HARGA TURUN, PETANI UBI DESA  GAYAM MERUGI

HARGA TURUN, PETANI UBI DESA GAYAM MERUGI

GAYAM.NGAWIKAB.ID – Para petani ubi Desa Gayam mengeluhkan anjloknya harga ubi jalar hingga Rp 750 per kilogram. Keadaan ini membuat risau para petani ubi karena minimnya harga pasaran. Harga tersebut dirasa tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian bibit, pupuk, dan ongkos tenaga kerja saat penanaman dan panen.

“Panen kali ini rugi mbak. Cuma Rp 750 per kilogram,” tutur Supardi, salah satu petani ubi di Dusun Kepuh, Desa Gayam, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi saat memanen hasil tanamannya. Dalam enam bulan terkahir, harga ubi terus terjun bebas. “Enam bulan lalu harganya mencapai Rp 2.500 per kilogram dan tiga bulan lalu harganya mencapai Rp 1.800 per kilogram,” tutur Supardi.

Supardi menduga, anjloknya harga ubi karena panen hampir bersamaan dengan di daerah lainnya. Supardi mengatakan bahwa dia telah mencabut ubinya dan akan menanam tanaman lain seperti padi. Berbeda dengan Tutik, petani ubi di Dusun Gayam, Desa Gayam Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi. Tutik belum mencabut ubi dan menunggu perkembangan hingga satu dua bulan kedepan.” Mudah-mudahan harga ubi naik ya mbak bulan depan,” tutur Tutik,

Para petani ubi berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Ngawi melalui Dinas Pertanian dapat mencari solusi bersama agar petani tidak dirugikan dengan turunnya harga ubi. Selain itu para petani Desa Gayam juga berharap adanya edukasi untuk meningkatkan kualitas ubi mereka agar berdaya jual tinggi.



Share and Enjoy !

Shares
id_IDIndonesian